IPB Badge

cerita menginspirasi

Roro Ambarwati A. Pakarti/B04100085/LASKAR 9

Kemampuan yang kita miliki adalah sebuah anugerah yang harus kita syukuri. Yang seperti dialami saudara saya. Dia seorang sarjana sastra dari sebuah universitas ternama di Indonesia. Dan seperti banyak orang, ia ingin mengembangkan ilmunya dalam dunia kerja. Namun, kenyataannya bahasa yang ia pelajari tidak begitu diminati di Indonesia. Dari beberapa lowongan yang ia lihat, hampir semua  membutuhkan yang menguasai bahasa Cina, Jepang, atau Jerman. Dia merasa kecewa dan menyesal.

Akhirnya dia memutuskan untuk belajar bahasa asing lain untuk memudarkan sedikit kekecewaannya. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan belajar bahasa Korea. Karena, dia merasa bahwa bahasa korea belum banyak menguasai dan pasti akan sama populernya dengan bahasa Cina. Selain itu dia pernah melihat lowongan untuk penerjemah bahasa korea di koran.

Setelah mencari tempat kursus bahasa Korea, ia menemukan tempat kursus yang cocok. Yang bisa ditempuh hanya dalam waktu satu tahun. Kursus dijalaninya dengan semangat. Sampai bulan kedua, ketiga, dan keempat. Menginjak bulan keempat terasa kursus mulai tidak efektif. Sang guru hanya mengulang materi yang itu-itu saja. Dia mulai ragu melanjutkan kursus, terlebih mulai banyak murid yang mengundurkan diri.

Dia berpikir apakah akan dilanjutkan kursusnya. Dan apakah mungkin ia mampu belajar bahasa Korea dalam waktu satu tahun? Kuliah sastranya dulu saja membutuhkan waktu empat tahun. Jika dibandingkan dengan bahasa yang dulu ia pelajari, bahasa Korea memiliki huruf-huruf khusus yang sama sekali belum pernah dilihatnya Sedangkan bahasa yang ia kuasai Menggunakan huruf latin yang sudah sejak awal ia kenal.

Keraguan ini semakin kuat ketika ia mendengar nasihat di radio, “Untuk apa kita memoles kekurangan yang kita miliki, itu hanya membuang waktu saja, lebih baik kita mengembangkan keahlian yang kita miliki dan memanfaatkannya.”

Mendengar kata-kata itu, ia pun merasa malu karena telah membuang-buang waktu dengan mengikuti kursus bahasa Korea. Dia yakin akan kemampuannya dan bertekad mengasah kembali bahasa asing yang ia kuasai. Dia merasa yakin dan belajar tekun. Tapi, tetap saja ia merasa malu. Ia merasa telah membuang-buang waktu dan uang orang tuanya karena sebagian telah ia lupa.

Dia tidak mau lagi melakukan pilihan yang salah. Meskipun harus memulai lagi dari awal. Perlahan tapi pasti, ia mulai mengasah kembali kemampuan berbahasanya.

Dan, memang itulah keputusan yang tepat karena pada akhirnya ia menemukan pekerjaan yang sesuai bidangnya. Sesuai dengan harapannya dahulu.

Dia berkata pada saya bahwa selain belajar ilmu yang telah kita kuasai, kita juga harus belajar sesuatu yang baru. Tapi, jangan sampai kita melupakan ilmu yang telah kita kuasai sebelumnya. Caranya dengan terus mengembangkannya, menggunakannya dan memanfaatkannya.

cerita inspirasi

Roro Ambarwati A. Pakarti /B0410085 /LASKAR 9

Saya adalah alumni dari SMA Negeri 2 Bogor. Ketika kelas tiga, kami menempati gedung yang ada di Mantarena. Menginjak tiga SMA, saya merasa beban saya semakin berat. UN sudah di depan mata apalagi ditambah harus menentukan pilihan untuk kuliah nanti. Saya sibuk ikut les ini itu. Pelajaran tambahan di sekolah, belajar dengan teman, bahkan meminta tambahan dengan guru. Semua untuk mendukung belajar saya. Sebenarnya tidak tega juga melihat orang tua membiayai les saya ini. Apalagi, saya tahu kalau orang tua saya bukan orang kaya yang uangnya banyak.

Saya berpikir untuk menghemat uang jajan saya. Agar tidak terlalu banyak minta tambahan ke orang tua. Saya mulai membawa bekal makan siang dari rumah. Makanan apa saja saya bawa ke sekolah. Ibu saya senang saya membawa bekal. Beliau semangat membuatkan bekal untuk saya. Kebetulan ayah saya juga bawa bekal. Karena kantornya jauh dari tempat makan.

Sering Ibu membawakan saya bekal dengan menu ayam. Ayam bakar, ayam goreng, dan ayam-ayam lainnya. Di sekolah, saya dan teman-teman makan bersama saat istirahat. Kami sering bertukar-tukaran saling mencicipi bekal. Rasanya tak terlupakan saat-saat seperti itu.

Ada seorang teman yang mencicipi bekal menu ayam bakar kecap milik saya. Wah, dia suka sekali. Berkali-kali dia minta ayam bakar saya. Ibu saya memang pintar memasak. Beliau punya usaha katering kecil-kecilan. Saya ledek dia agar membeli saja dari ibu saya. Saya bilang, “Enak ya? Kalau mau pesan, telepon ke no ini!” Ternyata dia menanggapi serius, menanyakan harga dan memesan untuk keesokan harinya. Saya bilang saja harganya Rp 5000,00. Teman-teman lain ikut pesan juga.

Sampainya di rumah, saya sampaikan pesanan teman saya pada ibu saya. Beliau membuatkan pesanan itu paginya. Waktu itu ada sembilan orang yang memesan. Nasi timbel dan ayam bakar serta sambelnya dibungkus dalam wadah sterofoam dan diberi sendok bebek. Teman-teman saya mengambil pesanannya dan membayar langsung. Melihat itu, teman saya yang lain juga ikut memesan ditambah promosi mulut ke mulut dari teman saya. Jualan saya laku. Lumayan hasilnya, selalu saya berikan pada ibu saya. Sehari saya bisa menjual sampai sebelas kotak ayam. Meskipun kadang juga tidak ada yang beli.

Teman saya memberi nama dagangan saya “ayam bakar mbak roro”. Karena memang ayam bakar yang paling sering dibeli. Meskipun terkadang ada yang menghutang, saya senang dapat membantu ibu saya dengan cara berjualan. Saya juga jadi kenal dengan teman baru yang memesan nasi ayam bakar kepada saya.

Saya juga jadi dilibatkan jadi panitia di kelas bahkan di ekstrakurikuler di sekolah. Bahkan untuk beberapa acara, mereka memesan ke saya.

Memang ada saja orang yang sinis mengatakan ayam yang saya jual tidak enaklah, kurang apalah. Tapi, saya anggap itu sebagai kritik dan masukan demi kemajuan saya sendiri. Saya sudah cukup bahagia sudah dapat membantu ibu saya sekaligus teman-teman saya.